Lamalera adalah desa kecil di tepi pantai Laut Sawu di kabupaten Lembata, provinsi Nusa Tenggara Timur. Ada keunikan yang khas dan tiada duanya di Indonesia mengenai desa ini, yaitu, kaum lelakinya adalah pemburu paus. Mereka mengayuh perahu tradisional yang disebut Pledang, menggunakan tombak besi yang dinamakan tempuling yang bergagang bambu. Para juru tikam akan melayang dari perahu untuk menghujamkan tempuling ke tubuh paus. Kawanan paus, kebanyakan jenis koteklema (sperm whale) bermigrasi ulang-alik perairan Pasifik-Samudra Hindia pada Mei hingga Oktober. Saat itu penduduk Lamalera menyebutnya masa lefa atau masa berburu paus. Oh ya, saya tidak menyebutnya Ikan Paus karena mamalia berukuran besar ini (panjang bisa mencapai 20 meter) adalah bukan ikan. Dagingnya seperti daging mamalia yang lain, sapi, kerbau, kuda. Tubuhnya berlapis lemak tebal yang menjadi persediaan makan apabila sedang berada di daerah selatan yang makanannya tidak sekaya perairan utara. Koteklema sangat terkenal dengan minyaknya (spermaceti) yang berada di rongga kepala. Minyak paus dipakai sebagai bahan bakar, memasak dan diminum untuk membersihkan pencernaan.
Penduduk Lamalera jika beruntuntg (menurut mereka) bisa menikam 40-60 ekor paus dalam satu musim lefa. Mereka mengonsumsi dan menukarkan daging dan lemak paus secara tradisional dengan penduduk dari pedalaman untuk mendapat hasil bumi berupa jagung, ubi, kelapa, kapas, buah dan sayur-mayur.
Oh ya, kampung Lamalera begitu cantik, bermandi cahaya matahari seperti makna nama Lamalera. Penduduknya lebih dari seribu jiwa, seluruhnya beragama Roma Katolik. Banyak pastor dan biarawati berasal dari desa tersebut.
Selain menangkap paus, nelayan setempat juga gemar memburu ikan pari, lumba-lumba, hiu dan menjala ikan terbang. Kaum perempuan mengisi waktu luang untuk menenun ikan untuk dikenakan sendiri ataupun dijual kepada wisatawan. Keunikan kehidupan nelayan pemburu paus telah membuat desa Lamalera menjadi daerah tujuan wsisata bahari. Sayangnya, belum ada wisata menonton migrasi paus. Penduduk lebih disibukkan dengan gairah menangkap paus ketimbang menyaksikan keindahan kawanan paus yang melintas dan menyembur-semburkan air ke udara...
Begitu kecilnya Lamalera dan begitu tidak terkenalnya, sehingga nelayan Lamalera luput dari perhatian lembaga internasional pelindung satwa dan tidak terkena kuota penangkapan tradisional paus seperti yang diberlakukan untuk orang Eskimo.
Saya sedang menyiapkan buku dwi bahasa mengenai Lamalera ini.

Posted at 11:52 am by md_andriana
Permalink